2024, Bayu menatap layar ponselnya dengan nanar. Notifikasi dari aplikasi portal akademik berkedip merah: Pembayaran UKT Semester 1 Jatuh Tempo 2 Hari Lagi. Saldo di e-wallet-nya nyaris nol, bahkan tak cukup untuk memesan ojek online. Di rumah, ibunya baru saja mencairkan tabungan emas digital dan menjual motor matic satu-satunya, harta terakhir mereka demi melunasi biaya masuk kuliah yang melambung tinggi.
"Aku tidak bisa membiarkan Ibu berkorban apa-apa lagi," gumam Bayu, memasukkan ponsel ke saku hoodie-nya.
Bayu bukan mahasiswa dengan IPK tertinggi, dan bukan pula influencer kampus yang populer. Tapi dia memiliki growth mindset dan mata yang jeli melihat anomali data di sekitarnya.
Siang itu, saat teman-temannya sibuk mengeluh di media sosial tentang e-book kedokteran impor yang harganya jutaan rupiah (dan terkunci sistem DRM sehingga tidak bisa di-share), otak Bayu berputar. Ia menyadari satu masalah krusial: Dosen mengajar dengan cepat menggunakan slide yang padat, rekaman kuliah membosankan untuk ditonton ulang, dan rangkuman buatan AI (Artificial Intelligence) seringkali tidak akurat atau terlalu kaku.
"Kalau aku bisa membuat rangkuman visual yang estetik, memverifikasi isinya agar akurat, dan membuatnya mudah dibaca di tablet atau HP, mereka pasti mau berlangganan," pikirnya.
Dengan modal nekat, Bayu menggunakan laptop tua peninggalan kakaknya yang baterainya sudah ngedrop. Malam hari saat teman kosnya push rank game online, jari-jari Bayu menari di atas keyboard. Ia tidak hanya mengetik, ia mendesain. Ia mengubah materi anatomi gigi yang rumit menjadi infografis interaktif dan flashcard digital yang menarik.
Esoknya, dia tidak langsung berjualan (spaming) di grup WhatsApp angkatan. Itu cara amatir. Bayu menggunakan strategi freemium. Dia mendekati ketua angkatan dan beberapa mahasiswa populer.
"Bro, gue udah buatin rangkuman Bab 1 sampai 5. Gue kirim link G-Drive-nya, akses gratis buat lo," kata Bayu. "Kalau menurut lo bagus, kasih tau anak-anak lain ya. Gue buka akses premium untuk bab selanjutnya seharga segelas es kopi susu aja."
Strategi "akses gratis untuk Key Opinion Leader" itu berhasil. Dalam seminggu, link akses folder Bayu viral di satu angkatan. Bayu yang awalnya mahasiswa penerima bantuan UKT, kini menjadi "penyelamat" nilai ujian teman-temannya. Namun, Bayu tidak berhenti di situ. Keuntungannya tidak ia pakai untuk flexing atau beli skin game.
Dia melihat peluang lain yang lebih nyata secara fisik.
Di sudut kantin fakultas, ada ruang kecil bekas gudang server yang tidak terpakai, tepat di bawah tangga menuju perpustakaan. Tempat itu strategis tapi berdebu dan hanya jadi tempat tumpukan kursi rusak. Bayu menemui pihak pengelola sarana kampus. Dengan proposal digital di tabletnya, ia menghadap.
"Pak, daripada ruang bawah tangga itu jadi gudang debu, izinkan saya menyewanya untuk Student Hub. Mahasiswa butuh tempat charging cepat, jasa print laporan mendadak (karena dosen senior masih minta fisik), dan servis laptop ringan tanpa harus keluar kampus."
Pihak kampus setuju. Dengan modal tabungan hasil jualan rangkuman digital, Bayu menyulap gudang itu menjadi kios modern minimalis. Usaha itu meledak. Kenapa? Karena Bayu menerapkan sistem online-to-offline. Mahasiswa bisa kirim file yang mau dicetak via Telegram bot saat masih di kelas, dan mengambil hasilnya di kios Bayu saat kelas bubar. Efisiensi waktu adalah mata uang baru yang ia jual.
Tahun berganti, kios "bawah tangga" itu berkembang menjadi toko peralatan kedokteran gigi berbasis aplikasi dan marketplace. Bayu yang dulu bingung membayar UKT, kini justru bisa membiayai kuliahnya sendiri, bahkan memberangkatkan ibunya umrah.
Suatu sore, seorang teman bertanya sambil melihat Bayu mengangkut stok barang, "Bay, lo kan calon dokter gigi, masa depan cerah. Kenapa masih sibuk dagang kayak gini? Gak takut FOMO main sama kita?"
Bayu tersenyum, teringat notifikasi transfer dari ibunya dulu yang didapat dari hasil jual motor.
"Gengsi itu mahal, Bro. Malu itu kalau kita punya kuota dan gadget canggih tapi masih minta uang jajan sama orang tua. Sukses itu bukan soal seberapa keren story IG kita, tapi seberapa pandai kita mengubah himpitan menjadi kesempatan."
Tahun-tahun berlalu, Bayu tidak lagi menjaga kios di bawah tangga. Ia telah membangun ekosistem bisnis digital dan ritel raksasa. Namun, setiap kali ia melihat ruang sempit atau celah pasar yang diremehkan orang lain, ia tersenyum. Ia tahu, di era disrupsi ini, peluang emas seringkali tersembunyi bagi mereka yang mau beradaptasi dan berpikir beda.
Bayu membuktikan bahwa anak biasa dengan modal terbatas pun bisa menembus batas algoritma kehidupan.
Disclaimer
Cerita pendek di atas adalah fiksi adaptasi modern dari kisah nyata masa muda Chairul Tanjung.
Chairul Tanjung dikenal sebagai "Si Anak Singkong". Kisah suksesnya dimulai saat ia kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI, di mana ia harus mencari uang sendiri karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit. Ia memulai dengan berjualan diktat kuliah, membuka usaha fotokopi di bawah tangga kampus, hingga akhirnya berkembang menjadi konglomerat pemilik CT Corp.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar